aku mulai mengerti apa yang saat itu kau rasakan.. aku tahu bagaimana bingungnnya saat itu.. dengan rasa yang masih menggebu dan saat itu kau harus merelakannya pergi.. aku hanya tau dan mengerti, bukan merasakannya.. karena mungkin apa yang pernah kau alami kini aku alami.. mungkin benar bahwa dalam hidup pasti ada timbal baliknya.. apapun itu bentuknya..
kau harus merelakan dia yang dulu benar-benar kau inginkan dan harus kau biarkan pergi dengan orang yang setidaknya pernah kau jadikan telinga.. saat ini akupun mengalaminya.. bukan ditikam yang aku rasakan, tapi lebih ke "kenapa" harus dia? dia yang dulu sempat kujadikan telinga.. ya, telinga.. mungkin memang hanya sebatas menjadi telinga.. hanya sebatas menjadi pendengar, bukan untuk yang mengerti dengan keadaanku..
awalnya aku berfikir dan merasa biasa saja dengan semua itu, tapi setelah aku mengalaminya mungkin aku sedikit mengerti apa yang dirasakan.. tapi bedanya kau yang masih dengan rasa yang menggebu sedangkan aku yang ingin benar-benar membuangnya dan tak ingin dia kembali.. karena saat ini aku menemukan yang lebih baik sedangkan kau yang masih mengurutkan dia paling atas dalam hidupmu..
aku mempercayai bahwa timbal balik dalam hidup itu memang ada.. dan saat ini aku benar-benar lebih meyakini adanya hal itu.. dulu aku pernah merasakan perih yang teramat dalam.. dan ternyata dengan tidak sengaja aku mengamatinya sedang berada dalam keterpurukan.. mungkin itu bisa dijadikan timbal balik dari apa yang pernah dilakukannya terhadapku..
bukan karma.. tapi pembelajaran yang bisa kita ambil agar kita bisa lebih intropeksi diri.. menilai dengan tanpa melihat dari salah satu sisi.. karena di sisi lain ada diri kita yang pernah ada dalam hidupnya.. belajar untuk bisa lebih menghargai hidup dan bisa menerima semua yang kita terima..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
@s.mentari